sad


Thursday, November 17, 2011

Antara Hidup dan Mati


Pernahkan anda berpikir, bahwa tidur kita malam ini adalah tidur yang terakhir? 
Esok hari semua orang disekitar kita terbangun, tetapi tidak dengan kita. Betapa tipisnya batas antara hidup dan mati, keduanya hanya dipisahkan oleh tidur.

Beberapa waktu yang lalu, saya punya tetangga, sebut saja namanya Pak As. Dia adalah orang yang aktif dan banyak kegiatan. Baik dikampung maupun dipasar dia sangat menonjol. Setiap hari hampir tidak pernah ia terlambat Shalat Subuh di masjid.
Suatu ketika, seusai Shalat Dhuhur di masjid, Pas As tidak kembali ke pasar untuk menjaga toko. Entah kenapa, hari itu ia ingin di rumah saja, makan bersama keluarga,   dan kemudian istirahat menunggu Shalat Ashar.
Shalat Ashar dilakukannya di masjjiid. Sepulangnya dari masjid, tidak biasanya ia tidur sangat lelap, sampai menjelang magrib. tak ada tanda-tanda apapun sebelumnya, menjelang magrib ia dibangunkan oleh keluarganya, namun Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ternyata ia tidak bisa bangun lagi. Ia telah kembali kepada Sang Pencipta untuk selamanya.

Saya tercenung, betapa cepat datangnya kematian. tidak ada tanda-tanda, tidak di dahului oleh kata pengantar, tanpa tanpa ijin dan tanpa permisi. Niatnya tidur, kebablasan meninggal. Yah itulah Kematian.

Namun saya juga iri sama Pak As, enak sekali proses meninggalnya. Banyak orang yang menjelang mati mengalami penderitaan yang menyakitkan. Namun ia mati sambil tidur-tiduran, sesudah Shalat Ashar, dan dalam keadaan Suci. Subhanallah sungguh Nikmat,...

Saya jadi teringat ucapan Ayah saya 20 tahun yang lalu, beliau mengajarkan hadits Rasulullah SAW kepada saya agar selalu berwudhu sebelum tidur.

"Jika engkau hendak tidur, berwudhu'lah seperti wudhu untuk Shalat, kemudian berbaringlah pada pinggang sebelah kanan...." (HR. Bukhari – Muslim)

mungkin maksud Nabi, kalau kebablasan meninggal,  kita dalam keadaan berwudhu, bertemu Allah dalam keadaan Suci, Betapa indahnya...

Apalagi, jika berangkat tidur, kita berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan agar menjelang tidur kita berserah diri kepada Allah. “Bismika Allahumma Ahya Wabismika Amuut…” Dengan namaMu ya Allah aku hidup, dan dengan namaMu aku mati…

Sungguh tidur yang tenang, tidur yang aman dan tentram, semua kita pasrahkan kepada Allah. Termasuk hidup dan mati kita. Karena kita tahu, hidup dan mati ini memang bukan milik kita. Ini semua milik Allah, kapanpun Dia mau mengambilnya, kita serahkan dengan sepenuh hati. Seikhlas-ikhlasnya.

Nah, karena dalam tidur kita kehilangan kesadaran sepenuhnya, maka kita pun tidak tahu apakah kita masih bisa sadar kembali atau akan tidur selama-lamanya. Siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita akan terbangun kembali? Tidak ada. Seorang dokter yang paling hebat pun, tidak bisa menjamin bahwa orang yang tidur itu pasti akan bangun kembali esok hari.

Paling-paling dia hanya bisa berkata mungkin atau mudah-mudahan, esok dia bangun seperti sedia kala. Hidup kita ini hanya bermain-main dengan kemungkinan dan probabilitas. Tidak ada yang pasti. Segala kepastian hanyalah milik Allah saja. Maka sandarkan saja kepada Allah yang Maha Berkuasa. Di genggaman tangan-Nyalah hidup dan mati kita berada.

Begitu terbangun dari tidur esok hari, kita sangat bersyukur. Karena ternyata Allah masih mengijinkan kita untuk menikmati hidup. Kita masih diberi kesempatan umur. Padahal orang-orang di sekitar kita boleh jadi telah diputuskan.

Maka, orang yang demikian akan berucap Alhamdulillah begitu terbangun dari tidurnya. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahwa setiap bangun dari tidur dianjurkan untuk mengucapakan “Alhamdulillahillazi Ahyana Ba’da Maa Amaatanaa Wa Ilaihin Nusyuur. Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku dari mati dan kepada-Nya kita akan kembali.
Rasa syukur tiada terhingga kita sampaikan kepada-Nya sesaat terbangun dari tidur. Kita bisa tersadar kembali dari tidur lelap. Dari rasa lenyap semalaman. Betapa besarnya kasih sayang-Nya kepada kita.

Tidak Cuma itu, kita juga diberi ingatan kembali oleh-Nya. Bayangkan jika bangun tidur kita kehilangan ingatan. Betapa menderitanya, kita tidak ingat lagi istri dan anak-anak kita. Kita tidak ingat lagi semua orang-orang di sekitar kita. Coba kita bayangkan…

Kitapun masih diijinkan untuk menikmati berbagai hal terkait dengan kesehatan. Masih diijinkan untuk bisa melihat dan membuka mata. Bagaimana jadinya, jika kita bangun tidur kita tidak bisa melihat indahnya dunia, semuanya gelap. Tidak bisa mendengar merdunya suara. Tidak mampu menggerakkan anggota badan. Tidak bisa turun dari perbaringan. Tidak bisa berjalan, dan seterudnya dan seterusnya.

Tidak akan ada habisnya kita sebutkan kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada kita. Semuanya karena Dia sangat menyayangi kita. Maka itulah yang diajarkan Rasulullah SAW kepada kita untuk selalu mengingat setiap nikmat yang tiada terkira itu.

Itulah tanda bahwa kita senantiasa ingat kepada Allah. Mau tidur ingat bangun tidur juga ingat. Bahkan dalam tidurpun kita telah berserah diri kepada Allah. Inilah makna Zikir yang sesungguhnya. Dalam keadaan apapun kita senantiasa ingat kepada Allah.

Comments
0 Comments

0 comments: