Tilawah Al Qur'an MP3

Download Tilawah Al Qur'an 30 Juz dari berbagai Qori.

sad


Thursday, November 17, 2011

Bagaiamana menghafal Al-Quran Al-Kariim?

Bagaiamana menghapal Al-Quran Al-Kariim?
Oleh : Ummu Abdillah & Ummu Maryam
Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah). Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di antaranya: 

  1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla.
  2. Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.
  3. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa.
  4. Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.
  5. Membenarkan ucapan dan bacaan.
  6. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali. Para shahabat radliallahu `anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran dan tajwidnya.
  7. Membuat target hafalan setiap hari.
  8. Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.
  9. Membaguskan hafalan.
  10. Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.
  11. Menghafal dengan satu mushaf.
  12. Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar.  Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf. Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.
  13. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal.
  14. Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus. Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar. Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.
  15. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan.
  16. Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.
  17. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).
  18. Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa. Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.
  19. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah.
  20. Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam : "Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya." Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: "Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu." Akan tetapi hendaklah mengatakan: "Aku dilupakan," karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda: (..arab..)
  21. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa.
  22. Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.
  23. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.
  24. Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan. Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.
  25. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.
  26. Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua. Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.
HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN
Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut.
Di antaranya:
  1. Banyaknya dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.
  2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.
  3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
  4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.
Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam bishawwab.
[Ummu Abdillah & Ummu Maryam, dinukil dari kutaib: "Kaifa Tataatstsar bil Quran wa Kaifa Tahfadzuhu?" oleh Abi Abdirrahman]

Antara Hidup dan Mati


Pernahkan anda berpikir, bahwa tidur kita malam ini adalah tidur yang terakhir? 
Esok hari semua orang disekitar kita terbangun, tetapi tidak dengan kita. Betapa tipisnya batas antara hidup dan mati, keduanya hanya dipisahkan oleh tidur.

Beberapa waktu yang lalu, saya punya tetangga, sebut saja namanya Pak As. Dia adalah orang yang aktif dan banyak kegiatan. Baik dikampung maupun dipasar dia sangat menonjol. Setiap hari hampir tidak pernah ia terlambat Shalat Subuh di masjid.
Suatu ketika, seusai Shalat Dhuhur di masjid, Pas As tidak kembali ke pasar untuk menjaga toko. Entah kenapa, hari itu ia ingin di rumah saja, makan bersama keluarga,   dan kemudian istirahat menunggu Shalat Ashar.
Shalat Ashar dilakukannya di masjjiid. Sepulangnya dari masjid, tidak biasanya ia tidur sangat lelap, sampai menjelang magrib. tak ada tanda-tanda apapun sebelumnya, menjelang magrib ia dibangunkan oleh keluarganya, namun Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ternyata ia tidak bisa bangun lagi. Ia telah kembali kepada Sang Pencipta untuk selamanya.

Saya tercenung, betapa cepat datangnya kematian. tidak ada tanda-tanda, tidak di dahului oleh kata pengantar, tanpa tanpa ijin dan tanpa permisi. Niatnya tidur, kebablasan meninggal. Yah itulah Kematian.

Namun saya juga iri sama Pak As, enak sekali proses meninggalnya. Banyak orang yang menjelang mati mengalami penderitaan yang menyakitkan. Namun ia mati sambil tidur-tiduran, sesudah Shalat Ashar, dan dalam keadaan Suci. Subhanallah sungguh Nikmat,...

Saya jadi teringat ucapan Ayah saya 20 tahun yang lalu, beliau mengajarkan hadits Rasulullah SAW kepada saya agar selalu berwudhu sebelum tidur.

"Jika engkau hendak tidur, berwudhu'lah seperti wudhu untuk Shalat, kemudian berbaringlah pada pinggang sebelah kanan...." (HR. Bukhari – Muslim)

mungkin maksud Nabi, kalau kebablasan meninggal,  kita dalam keadaan berwudhu, bertemu Allah dalam keadaan Suci, Betapa indahnya...

Apalagi, jika berangkat tidur, kita berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan agar menjelang tidur kita berserah diri kepada Allah. “Bismika Allahumma Ahya Wabismika Amuut…” Dengan namaMu ya Allah aku hidup, dan dengan namaMu aku mati…

Sungguh tidur yang tenang, tidur yang aman dan tentram, semua kita pasrahkan kepada Allah. Termasuk hidup dan mati kita. Karena kita tahu, hidup dan mati ini memang bukan milik kita. Ini semua milik Allah, kapanpun Dia mau mengambilnya, kita serahkan dengan sepenuh hati. Seikhlas-ikhlasnya.

Nah, karena dalam tidur kita kehilangan kesadaran sepenuhnya, maka kita pun tidak tahu apakah kita masih bisa sadar kembali atau akan tidur selama-lamanya. Siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita akan terbangun kembali? Tidak ada. Seorang dokter yang paling hebat pun, tidak bisa menjamin bahwa orang yang tidur itu pasti akan bangun kembali esok hari.

Paling-paling dia hanya bisa berkata mungkin atau mudah-mudahan, esok dia bangun seperti sedia kala. Hidup kita ini hanya bermain-main dengan kemungkinan dan probabilitas. Tidak ada yang pasti. Segala kepastian hanyalah milik Allah saja. Maka sandarkan saja kepada Allah yang Maha Berkuasa. Di genggaman tangan-Nyalah hidup dan mati kita berada.

Begitu terbangun dari tidur esok hari, kita sangat bersyukur. Karena ternyata Allah masih mengijinkan kita untuk menikmati hidup. Kita masih diberi kesempatan umur. Padahal orang-orang di sekitar kita boleh jadi telah diputuskan.

Maka, orang yang demikian akan berucap Alhamdulillah begitu terbangun dari tidurnya. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahwa setiap bangun dari tidur dianjurkan untuk mengucapakan “Alhamdulillahillazi Ahyana Ba’da Maa Amaatanaa Wa Ilaihin Nusyuur. Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku dari mati dan kepada-Nya kita akan kembali.
Rasa syukur tiada terhingga kita sampaikan kepada-Nya sesaat terbangun dari tidur. Kita bisa tersadar kembali dari tidur lelap. Dari rasa lenyap semalaman. Betapa besarnya kasih sayang-Nya kepada kita.

Tidak Cuma itu, kita juga diberi ingatan kembali oleh-Nya. Bayangkan jika bangun tidur kita kehilangan ingatan. Betapa menderitanya, kita tidak ingat lagi istri dan anak-anak kita. Kita tidak ingat lagi semua orang-orang di sekitar kita. Coba kita bayangkan…

Kitapun masih diijinkan untuk menikmati berbagai hal terkait dengan kesehatan. Masih diijinkan untuk bisa melihat dan membuka mata. Bagaimana jadinya, jika kita bangun tidur kita tidak bisa melihat indahnya dunia, semuanya gelap. Tidak bisa mendengar merdunya suara. Tidak mampu menggerakkan anggota badan. Tidak bisa turun dari perbaringan. Tidak bisa berjalan, dan seterudnya dan seterusnya.

Tidak akan ada habisnya kita sebutkan kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada kita. Semuanya karena Dia sangat menyayangi kita. Maka itulah yang diajarkan Rasulullah SAW kepada kita untuk selalu mengingat setiap nikmat yang tiada terkira itu.

Itulah tanda bahwa kita senantiasa ingat kepada Allah. Mau tidur ingat bangun tidur juga ingat. Bahkan dalam tidurpun kita telah berserah diri kepada Allah. Inilah makna Zikir yang sesungguhnya. Dalam keadaan apapun kita senantiasa ingat kepada Allah.