Tilawah Al Qur'an MP3

Download Tilawah Al Qur'an 30 Juz dari berbagai Qori.

sad


Wednesday, December 29, 2010

Perintah Mensucikan Hati dan Keutamaannya


Allah berfirman yang artinya, “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89)

Ibnu Katsir berkata, “‘(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’ Artinya, harta seseorang tidak akan bisa menjaga diri orang tersebut dari azab Allah, walaupun dia menebusnya dengan emas seluas dan sepenuh bumi. ‘Dan tidak pula anak-anak laki-laki’, artinya tidak pula bisa menghindarkan dirinya dari azab Allah, walaupun dia menebus dirinya dengan semua manusia yang bisa memberikan manfaat kepadanya. Yang bermanfaat pada hari kiamat hanyalah keimanan kepada Allah dan memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelakunya. Oleh karena itu, Allah kemudian berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’ Yaitu, hati yang terhindar dari kesyirikan dan dari kotoran-kotoran hati.”

Imam asy-Syaukani berkata, “Harta dan kerabat tidak bisa memberikan manfaat kepada seseorang pada hari kiamat. Yang bisa memberikan manfaat kepadanya hanyalah hati yang selamat. Dan hati yang selamat dan sehat adalah hati seorang mukmin yang sejati.”

Ayat-Ayat yang Lain

1. Allah berfirman,

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS. ash-Shaffat: 84)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, “Yakni dia datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat dari kesyirikan, syubhat-syubhat, dan syahwat-syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Apabila hati seorang hamba telah selamat dari hal-hal di atas, maka hati tersebut akan terhindar dari segala keburukan-keburukan, dan sebaliknya hati tersebut akan memunculkan kebaikan-kebaikan. Dan di antara bentuk keselamatan hati adalah bahwa ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, serta selamat dari hasad dan dari berbagai bentuk akhlak yang tercela.”

2. Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.’” (QS. al-Hasyr: 10)

Imam asy-Syaukani berkata tentang ayat di atas yang maknanya bahwa yang dimaksud orang-orang yang datang setelah para sahabat adalah semua orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat. Dalam ayat ini Allah memerintahkan mereka untuk memohon ampunan untuk diri mereka sendiri dan juga untuk para pendahulu mereka yang telah mendahului mereka dalam beriman. Allah juga memerintahkan mereka untuk berdoa kepada-Nya agar dihilangkan dari hati mereka perasaan ghill, yaitu rasa dendam, dongkol, dan dengki terhadap kaum mukminin -dan tentunya yang menduduki peringkat utama dalam golongan kaum mukminin adalah para sahabat karena merekalah generasi paling mulia dari umat ini.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Doa ini berlaku secara umum untuk semua kaum mukminin baik dari kalangan sahabat atau umat sebelum sahabat atau generasi-generasi setelah sahabat. Dan ini termasuk di antara keutamaan-keutamaan iman, yaitu bahwa kaum mukminin itu saling memberi manfaat satu sama lain, saling mendoakan satu sama lain. Semua itu karena adanya kebersamaan dalam keimanan yang berimplikasi adanya ikatan ukhuwwah antar mukmin, yang di antara cabangnya adalah saling mendoakan dan saling mencintai antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, Allah menyebutkan dalam doa tersebut permintaan dihilangkannya rasa ghill dari hati mereka, sedikit ataupun banyak. Apabila sifat ghill tersebut telah hilang dari hati, maka akan muncul sifat yang menjadi lawan dari sifat tersebut, yaitu rasa cinta antara sesama mukmin, saling menolong dan menasehati, serta sifat-sifat terpuji lainnya yang termasuk hak-hak orang mukmin yang harus ditunaikan.”

Hadits-Hadits Rasulullah

1. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, “Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.’” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4216 dan Thabarani, dan dishahihkan oleh Imam Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)

2. Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘… Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila dia baik, maka menjadi baik pula semua anggota tubuhnya. Dan apabila rusak, maka menjadi rusak pula semua anggota tubuhnya. Ketahuilah dia itu adalah hati.’” (Muttafaq ‘alaihi)

3. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba beliau berkata, ‘Akan lewat di hadapan kalian saat ini seorang calon penghuni surga.’ Lalu lewatlah seorang pemuda Anshar dalam keadaan dari jenggotnya menetes sisa-sisa air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Pada keesokan harinya, Rasulullah bersabda lagi persis sebagaimana sabdanya kemarin, lalu lewatlah pemuda tersebut dengan keadaan persis dengan keadaannya yang kemarin. Dan pada hari yang ketiga Rasulullah mengulang lagi sabdanya seperti sabdanya yang pertama dan pemuda itu pun muncul lagi dengan keadaan seperti keadaannya yang pertama. Maka, ketika Rasulullah beranjak pergi, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash segera mengikuti pemuda tersebut (ke rumahnya), lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya antara aku dan bapakku telah terjadi perselisihan, maka aku bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama 3 hari. Jika engkau tidak keberatan, aku ingin menumpang padamu selama 3 hari tersebut.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Ya, tidak apa-apa.’”

Selanjutnya Anas berkata, “Maka Abdullah menceritakan bahwa selama 3 hari bersama pemuda tersebut, dia tidak melihatnya melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikitpun. Yang dia lakukan hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh. Selain itu, Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah 3 hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak 3 kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?’ Orang tersebut berkata, ‘Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat.’ Maka ketika aku telah berpaling (pergi), dia memanggilku dan berkata, ‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.’ Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.’” (HR. Ahmad)

Perkataan Para Salaf

1. Abu Dujanah berkata, “Tidak ada sebuah amalan yang paling aku yakini bisa memberi manfaat bagiku di akhirat selain dua perkara. Yang pertama, aku tidak pernah berbuat sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku. Dan yang kedua, selamatnya hatiku terhadap kaum muslimin.” (Siyar A ‘lam an-Nubala’ I/243).

2. Sufyan bin Dinar berkata, “Aku berkata kepada Abu Bisyr -dan dia termasuk di antara murid-murid Ali bin Abu Thalib-, ‘Beri tahu kepadaku amalan-amalan orang-orang sebelum kita.’ Dia berkata, ‘Mereka sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak.’ Aku berkata, ‘Mengapa bisa demikian?’ Dia berkata, ‘Karena selamatnya (bersihnya) hati mereka.’” (Az-Zuhud II/600).

3. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Tidak akan bisa mengejar kami orang yang mengejar dengan memperbanyak puasa dan shalat, akan tetapi kami hanya bisa dikejar dengan bermurah hati dan selamatnya hati dan memberi nasehat kepada umat.” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam I/225).

4. Ibnul Qayyim berkata, “Jadi, hati adalah ibarat raja bagi anggota tubuh. Anggota tubuh akan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh hati dan akan menerima semua arahan-arahan hati. Anggota tubuh tidaklah akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari tujuan dan keinginan hati. Jadi, hati tersebut merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan hati dan meluruskannya merupakan upaya yang terpenting, dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.” (Ighatsah al-Lahfan halaman 5).

Di tempat yang lain beliau berkata, “Jenis hati yang ketiga adalah hati yang sakit, yaitu hati yang hidup namun berpenyakit. Dengan begitu, di dalam hati tersebut terdapat dua unsur, di mana unsur yang pertama terkadang mengalahkan yang kedua dan begitu pula sebaliknya. Sedangkan hati sendiri akan mengikuti yang menang di antara keduanya.

Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, ikhlas dan bertawakkal hanya kepada-Nya. Semua itu merupakan unsur kehidupan hati. Namun, di dalam hati tersebut juga terdapat perasaan cinta kepada syahwat, lebih mementingkan syahwat dan berupaya untuk memperturutkannya, dan terdapat pula rasa hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki. Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”

Beliau juga berkata, “Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut. Barangsiapa yang berusaha untuk mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari najis-najis hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun tentang orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika najis hati tersebut najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak bisa masuk surga sama sekali. Dan jika najis tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga tersebut setelah dia disucikan di dalam neraka dari najis-najis tersebut.”

5. Ibnu Qudamah berkata, “Dan ketahuilah bahwasanya Allah apabila menghendaki kebaikan pada seseorang, maka dia akan dibuat mengetahui aibnya. Barangsiapa yang mempunyai mata hati yang tajam, maka tidak akan tersembunyi baginya aib-aib dirinya, dan apabila dia telah mengenali aib-aibnya, maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya penyakit-penyakit tersebut. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak mengenal aib-aib dirinya sendiri. Mereka bisa melihat kotoran yang ada di mata saudaranya, tetapi tidak bisa melihat anak sapi yang ada di matanya sendiri.”

Di tempat yang lain beliau berkata, “Barangsiapa yang mengenal hatinya, maka dia akan mengenal Rabbnya. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak mengenali dirinya sendiri. Allah-lah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya, dan penghalang tersebut berupa ketidakmampuan seseorang mengenali hatinya dan terhalangnya dirinya dari mengawasi hatinya, padahal mengenali hati dan sifat-sifatnya adalah merupakan pokok agama.”

Penutup

Kita akhiri pembahasan ini dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah: Allohumma aati nafsii taqwaahaa wa zakkihaa anta khoiru man zkkaahaa. Aamiin. “Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan bersihkanlah ia karena Engkaulah sebaik-baik zat yang bisa membersihkannya.” Amin.

***

Sumber: Majalah Fatawa
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id



Rayuan Setan Dalam Pacaran


Para pembaca yang budiman, ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini merupakan fitrah (insting) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang dinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

Adab Bergaul Antara Lawan Jenis

Islam adalah agama yang sempurna, di dalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia, bagaimana pergaulan antara lawan jenis. Di antara adab bergaul antara lawan jenis sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama kita adalah:

1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30). Allah juga berfirman yang artinya,”Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 31)

2. Tidak berdua-duaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak menyentuh lawan jenis

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari). Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.

Salah Kaprah Dalam Bercinta

Tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan maut yang dikenal dengan “pacaran“. Allah telah mengharamkan berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam perzinaan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’: 32). Lalu pintu apakah yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim). Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang? Bukankah dengan pacaran ia sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya? Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan pacarnya? Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggallah penyesalan. Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya….

Iblis, Sang Penyesat Ulung

Tentunya akan sulit bagi Iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian orang sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia. Iblis berkata, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad: 82). Termasuk di antara alat yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia adalah wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari & Muslim). Kalaulah Iblis tidak berhasil merusak agama seseorang dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran cipika-cipiki, mungkin cukuplah bagi Iblis untuk bisa tertawa dengan membuat mereka berpacaran lewat telepon, SMS atau yang lainnya. Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang masalah agama kepada lawan jenisnya, miss called atau SMS pacarnya untuk bangun shalat tahajud dan lain-lain.

Ringkasnya sms-an dengan lawan jenis, bukan saudara dan bukan karena kebutuhan mendesak adalah haram dengan beberapa alasan: (a) ini adalah semi berdua-duaan, (b) buang-buang pulsa, dan (c) ini adalah jalan menuju perkara yang haram. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

***

Penulis: Ibnu Sutopo Yuono
Artikel www.muslim.or.id



Ketika Wanita Menggoda


Allah ta’ala telah menganugerahkan kepada kaum wanita keindahan yang membuat kaum lelaki tertarik kepada mereka. Namun syariat yang suci ini tidak memperkenankan keindahan itu diobral seperti layaknya barang dagangan di etalase atau di emperan toko. Tapi kenyataan yang kita jumpai sekarang ini wanita justru menjadi sumber fitnah bagi laki-laki. Di jalan-jalan, di acara TV atau di VCD para wanita mengumbar aurat seenaknya bak kontes kecantikan yang melombakan keindahan tubuh, sehingga seolah-olah tidak ada siksa dan tidak kenal apa itu dosa. Benarlah sabda Rasulullah yang mulia dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana beliau bersabda, “Tidak pernah kutinggalkan sepeninggalku godaan yang lebih besar bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. Bukhari Muslim)

Ya, begitulah realitasnya, wanita menjadi sumber godaan yang telah banyak membuat lelaki bertekuk lutut dan terbenam dalam lumpur yang dibuat oleh syaitan untuk menenggelamkannya. Usaha-usaha untuk menggoda bisa secara halus, baik disadari maupun tidak, secara terang-terangan maupun berkedok seni. Tengoklah kisah Nabi Allah Yusuf ‘alaihis salam tatkala istri pembesar Mesir secara terang-terangan menggoda Beliau untuk diajak melakukan tindakan tidak pantas. Nabi Yusuf pun menolak dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” (QS. Yusuf: 23)

Muhammad bin Ishaq menceritakan, As-Sirri pernah lewat di sebuah jalan di kota Mesir. Karena tahu dirinya menarik, wanita ini berkata, “Aku akan menggoda lelaki ini.” Maka wanita itu membuka wajahnya dan memperlihatkan dirinya di hadapan As-Sirri. Beliau lantas bertanya, “Ada apa denganmu?” Wanita itu berkata, “Maukah anda merasakan kasur yang empuk dan kehidupan yang nikmat?” Beliau malah kemudian melantunkan syair,”Berapa banyak pencandu kemaksiatan yang mereguk kenikmatan dari wanita-wanita itu, namun akhirnya ia mati meninggalkan mereka untuk merasakan siksa yang nyata. Mereka menikmati kemaksiatan yang hanya sesaat, untuk merasakan bekas-bekasnya yang tak kunjung sirna. Wahai kejahatan, sesungguhnya Allah melihat dan mendengar hamba-Nya, dengan kehendak Dia pulalah kemaksiatan itu tertutupi jua.” (Roudhotul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, karya Ibnul Qayyim)

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah mewanti-wanti kepada kita sekalian lewat sabda beliau, “Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim) Kini, di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan begitu gampang masuk ke rumah-rumah kita. Cukup dengan membuka surat kabar dan majalah, atau dengan mengklik tombol remote control, godaan pun hadir di tengah-tengah kita tanpa permisi, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok memamerkan aurat yang semestinya dijaga.

Lalu, sebagian muslimah ikut-ikutan terbawa oleh propaganda gaya hidup seperti ini. Pakaian kehormatan dilepas, diganti dengan pakaian-pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh, tanpa merasa risih. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas menjadi hal biasa. Maka, kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri: “Kelezatan-kelezatan yang didapati seseorang dari yang haram, toh akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan, segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelezatan yang berakhir dengan siksaan dalam neraka.”

Seorang ulama yang masyhur, Ibnul Qayyim pun memberikan nasihat yang sangat berharga: “Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat…”

Wallahul Musta’an.

***

Penulis: Abu Harun Aminuddin
Artikel www.muslim.or.id



Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, tidaklah Alloh menurunkan baik di dalam taurat, di dalam Zabur, di dalam Injil, tidak juga di dalam Al Furqan (Al Quran) sebuah surat yang seperti ini, sesungguhnya ia adalah As Sab’ul Matsaani (Al Fatihah).” (Shahih, HR. Tirmidzi, 5/2875, disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi, lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hal 13)

Manusia itu memiliki dua potensi kekuatan: kekuatan ilmiah nazhariyah (pengetahuan dan pemikiran) dan kekuatan ‘amaliah iradiyah (perbuatan dan kehendak). Kebahagiaan yang sempurna bagi manusia sangat tergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan ini; kekuatan ilmiah/pengetahuan dan kekuatan iradiyah/kehendak.

Kiat Menyempurnakan Kekuatan Ilmiah

Cara untuk menyempurnakan kekuatan ilmiah hanya bisa dilakukan dengan:

  1. Mengenali Zat Yang telah menciptakan dirinya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya.
  2. Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan kepada-Nya.
  3. Harus mengerti berbagai rintangan jalan tersebut.
  4. Harus mengenali dirinya sendiri.
  5. Mengetahui aib-aib yang dimilikinya.

Dengan lima pengetahuan inilah seorang manusia akan bisa memperoleh kesempurnaan kekuatan ilmiah. Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling paham tentang-Nya.

Kiat Menyempurnakan Kekuatan Amaliah

Sedangkan untuk menyempurnakan kekuatan amaliah iradiyah hanya bisa diraih dengan menjaga hak-hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus ditunaikan hamba (tauhid dan taat) dan menegakkannya dengan ikhlas, shidq (jujur dan benar), penuh nasihat, ihsan, mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dan menyadari serta mengakui karunia Alloh kepada dirinya, menyadari kekurangan dirinya dalam menunaikan hak-hakNya. Sehingga dia pun merasa malu menghadap-Nya dengan pengabdian (yang kurang) seperti itu karena dia menyadari bahwa pengabdiannya itu belum bisa memenuhi hak-Nya sebagaimana seharusnya, bahkan jauh sekali di bawah semestinya.

Tanpa Pertolongan Alloh Itu Tak Mungkin Diraih

Tidak mungkin seorang manusia menempuh jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan Alloh. Allohlah yang memberikan hidayah kepadanya menuju jalan yang lurus/shirathul mustaqim; jalan yang diajarkan Alloh kepada wali-waliNya dan mereka mendapat keistimewaan dengan menempuhnya, Allohlah yang bisa menjauhkan dirinya dari melenceng keluar dari jalan tersebut. Penyimpangan dari jalan lurus itu bisa terjadi dengan rusaknya kekuatan ilmiahnya sehingga dia terjatuh dalam kesesatan. Atau juga penyimpangan itu terjadi karena rusaknya kekuatan amaliahnya sehingga dia berhak mendapatkan murka.

Maka kesempurnaan dan kebahagiaan insan tidak mungkin tercapai kecuali dengan terkumpulnya seluruh perkara ini tadi (kekuatan ilmiah dan amaliah serta pertolongan Alloh). Surat Al Fatihah telah mencakup perkara-perkara ini dan menatanya dengan sedemikian bagusnya.

Ushul Asma’ul Husna

Firman Alloh Ta’ala,


الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين


“Segala puji bagi Alloh Robb penguasa alam, Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang, Raja penguasa pada hari pembalasan.” (QS. Al Fatihah: 2-4)

Ayat-ayat ini mengandung landasan yang pertama yaitu mengenali Robb ta’ala, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Nama-Nama Alloh yang tercantum dalam surat ini adalah ushul asma’ul husna (pokok Asma’ul Husna) yaitu: Alloh, Ar Rabb dan Ar Rahman. Makna-makna semua Nama Alloh intinya berpusat pada nama-nama ini.

Nama Alloh mengandung sifat Uluhiyah. Alloh, dialah yang berhak dipertuhankan dan diibadahi, yang berhak diesakan dalam beribadah karena berbagai macam sifat ketuhanan melekat di dalam diri-Nya, dan itu semua merupakan sifat kesempurnaan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Nama Ar Rabb mengandung sifat Rububiyah. Rabbul ‘Aalamin artinya Zat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah Alloh kepada makhluk-Nya ada dua macam:

  1. Tarbiyah ‘aammah/umum
  2. Tarbiyah khaashshah/khusus

Tarbiyah Umum dan Khusus

Tarbiyah umum yaitu: penciptaan seluruh makhluk, pemberian rezeki kepada mereka, pemberian petunjuk guna mencapai kemaslahatan hidup mereka selama di dunia.

Sedangkan tarbiyah khusus adalah: tarbiyahNya kepada wali-waliNya. Wali Alloh adalah hamba-hambaNya yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada-Nya.

Alloh mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuknya, menyempurnakan iman itu bagi mereka. Alloh menyingkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang menghalangi hubungan mereka dengan-Nya. Hakikat dari tarbiyah khusus ini adalah: tarbiyah taufik untuk bisa mencapai segala kebaikan dan terlindungi dari berbagai macam kejelekan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka.” Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya.” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27)

Inti Penghambaan

Firman Alloh ta’ala,


إيّاك نعبد و إيّاك نستعين


“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)

Ayat ini mengandung keharusan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada Alloh, jalan itu adalah dengan beribadah kepada-Nya saja dengan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya serta senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan; yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan ibadah hanya akan dianggap/diterima sebagai ibadah apabila:

  1. Diambil dari tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
  2. Dikerjakan dengan niat mengharap keridhoan Alloh.

Disebutkannya ibadah sebelum isti’anah (minta tolong) demi mendahulukan hak Alloh atas hak hamba. Karena isti’anah itu sebenarnya termasuk ibadah, maka penyebutan isti’anah setelah ibadah dalam ayat ini merupakan penyebutan sesuatu yang lebih luas cakupannya sebelum sesuatu yang lebih sempit cakupannya.

Kenapa isti’anah disebutkan padahal isti’anah juga termasuk ibadah, jawabnya adalah: karena setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Alloh dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Jika seandainya Alloh tidak menolong dirinya niscaya dia tidak akan bisa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Shirathal Mustaqim

Firman Alloh ta’ala,


اهدنا الصراط المستقيم


“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6)

Ayat ini mengandung penjelasan bahwa seorang hamba tidak memiliki jalan untuk meraih kebahagiaannya kecuali dengan istiqomah meniti shirathal mustaqim, dan tidak ada jalan menuju istiqomah di atas shirathal mustaqim kecuali dengan hidayah dari-Nya.

Hakikat jalan yang lurus adalah: mengenali kebenaran dan mengamalkannya. Hidayah itu ada dua, hidayah ila shirath dan hidayah fii shirath. Hidayah ila shirath yaitu petunjuk menuju jalan yang lurus; tetap berpegang dengan agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya. Sedangkan hidayah fii shirath adalah petunjuk untuk bisa melaksanakan berbagai rincian ajaran agama Islam dengan bentuk ilmu dan pengamalan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Di dalam ayat ini juga terkandung bantahan bagi seluruh kalangan pembela kebid’ahan dan para pengibar bendera kesesatan, sebab setiap ahli bid’ah dan orang sesat adalah sosok yang menyimpang dari jalan yang lurus (lihat Taisir, hal. 40).

Bukan Yang Dimurkai dan Sesat

Firman Alloh ta’ala,


غير المغضوب عليهم ولا الضالّين


“Bukan jalannya orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.”
(QS. Al Fatihah: 6)

Ayat ini mengandung penjelasan dua sisi penyimpangan dari jalan yang lurus. Menyimpang ke sisi yang satu akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan yaitu rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan menyimpang ke sisi yang lainnya akan menjerumuskannya ke dalam kemurkaan yang timbul karena rusaknya niat dan amalan.

Orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran tapi justru meninggalkannya, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan/tidak mau tahu seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Maka bagian awal dari surat ini mengandung rahmat, bagian tengahnya mengandung hidayah dan bagian akhirnya mengandung nikmat. Jatah nikmat hakiki yang diperoleh hamba itu sesuai dengan kadar hidayah yang diterimanya. Begitu pula jatah hidayahnya sesuai dengan kadar rahmat yang dianugerahkan kepadanya, sehingga urusan ini akhirnya semua kembali berpusat pada nikmat dan kasih sayang-Nya.

Sedangkan nikmat dan kasih sayang/rahmat merupakan salah satu bukti keberadaan sifat rububiyah Alloh, Dia tidak pernah lepas dari sifat penyayang dan pemberi nikmat, dan hal itu termasuk sebab yang mengharuskan penyembahan ditujukan kepada-Nya. Dialah sesembahan yang hak, walaupun orang-orang yang menentang bersikeras menentang-Nya dan orang-orang musyrik tetap bersikukuh dengan kesyirikannya.

Maka barang siapa merealisasikan makna-makna yang terkandung dalam surat Al Fatihah, mengilmuinya, mengetahui dan mengamalkannya, serta turut menciptakan keadaan yang diinginkannya, sungguh dia telah meraih kejayaan terbesar dengan amalnya dan Ubudiyah/penghambaannya (kepada Alloh) menjadi Ubudiyah khaashshah (penghambaan khusus) yaitu tingkatannya orang-orang yang diangkat derajatnya oleh Alloh di antara kalangan orang-orang awam yang beribadah. Wallohul musta’aan.

(Petikan Faedah Surat Al Fatihah)

Disarikan dari:

  1. Al-Fawaa’id, karya Al Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh.
  2. Taisir Karim ar-Rahman, karya Syaikh As Sa’di rohimahulloh.
  3. Beserta tambahan keterangan ulama yang lain.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Murojaah: Ustadz Abu Saad
Artikel www.muslim.or.id



Ibadur Rahman


Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh. Amma ba’du.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya Alloh memiliki hamba-hamba yang mulia di atas muka bumi ini. Jasad-jasad mereka ada di dunia akan tetapi cita-cita hati mereka tergantung di akhirat. Merekalah Ibadur-Rahman. Di dalam Al Quran Alloh memuji mereka, menerangkan ciri-cirinya agar orang-orang pun merasa tertarik dan bersemangat untuk meniru kebaikan mereka.

Alloh ta’ala berfirman,


وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَاخَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلاَمًا {63} وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا {64} وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا {65} إِنَّهَا سَآءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا {66} وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا {67} وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا {68} يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا {69} إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {70} وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا {71} وَالَّذِينَ لاَيَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا {72} وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا {73} وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا {74} أُوْلَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَاصَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلاَمًا {75} خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا {76} قُلْ مَايَعْبَؤُا بِكُمْ رَبِّي لَوْلاَ دُعَآؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا {77}


63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

64. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (maksudnya orang-orang yang sembahyang tahajud di malam hari semata-mata Karena Alloh).

65. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.”

66. Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

68. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Alloh dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Alloh (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya.

69. (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

70. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

71. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya dia bertaubat kepada Alloh dengan Taubat yang sebenar-benarnya.

72. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

73. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.

74. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

75. Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam surga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya.

76. Mereka kekal di dalamnya. surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

77. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh Telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).” (QS. Al Furqon: 63-77)

Dua Macam ‘Ubudiyah

Di dalam ayat-ayat ini Alloh menyebutkan pujian kepada sebagian hamba-hambaNya. Akan tetapi tentu tidak semua hamba-Nya yang hidup di alam ini terpuji. Ada hamba yang taat dan ada yang bermaksiat. Untuk itu setiap insan harus mengetahui bahwa penghambaan atau ubudiyah yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah sembarang ubudiyah.

Ubudiyah (penghambaan) itu ada dua macam:

(1) Ubudiyah kepada rububiyah-Nya.

(2) Ubudiyah kepada uluhiyah-Nya.

Rububiyah Alloh meliputi penciptaan, pengaturan dan penguasaan, menghidupkan dan mematikan, pemberian rezeki dan lain sebagainya. Sedangkan uluhiyah Alloh meliputi peribadatan yang ditujukan kepada-Nya, baik berupa sholat, puasa, menyembelih kurban, bernazar, berdoa, meminta perlindungan dan pertolongan, tawakal dan lain sebagainya.

Ubudiyah yang pertama (disebut juga ubudiyah ‘aammah/umum) meliputi seluruh makhluk yang ada; muslim dan kafir, orang baik dan orang jelek, semuanya menjadi hamba yang tunduk kepada Alloh, dipelihara dan diatur oleh-Nya. Seperti disebutkan dalam ayat,


إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدا


“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)

Sedangkan ubudiyah yang kedua (disebut juga ubudiyah khaashshah/khusus) yaitu ubudiyah kepada uluhiyah dan beribadah hanya kepada-Nya, yang menjadi bukti kasih sayang hakiki dari-Nya, itulah ubudiyah yang dimiliki oleh nabi-nabi serta wali-waliNya.

Ubudiyah yang kedua inilah yang dimaksud oleh ayat di atas. Oleh karena itulah di dalam ayat tersebut Alloh menyandarkan penghambaan itu kepada Nama-Nya Ar Rohman, sekaligus menjadi isyarat yang halus yang menunjukkan bahwasanya mereka semua itu bisa menggapainya hanyalah berkat rahmat dari-Nya.

Sifat Ibadur-Rahman

Alloh menyebutkan sifat-sifat mereka sebagai sifat-sifat yang paling sempurna dan paling utama. Alloh menyebutkan sifat-sifat hamba-hamba itu dengan:

Pertama: Orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Mereka adalah orang-orang yang meniti kehidupan ini dengan senantiasa tawadhu’ terhadap Alloh dan rendah hati kepada sesama makhluk, mereka berada dalam ketenangan dan memiliki kewibawaan, senantiasa tawadhu’ kepada Alloh dan kepada hamba-hambaNya. Dan apabila orang-orang pandir melontarkan kejahilannya kepada mereka, maka tidaklah hal itu membuat mereka membalas kebodohan dengan kebodohan atau dengan perbuatan dosa. Ini yang membuat mereka semakin terpuji, yaitu sikap lemah lembut dan santun, mereka membalas kejelekan dengan perbuatan ihsan dan kebaikan, bahkan memaafkan orang yang pandir atas kejahilannya, disertai ketabahan hati mereka yang mengagumkan sehingga dapat mengangkat mereka hingga mencapai kemuliaan akhlak semacam ini.

Kedua: Orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Mereka adalah orang-orang yang banyak mengerjakan sholat malam dan ikhlas dalam mengerjakannya demi Tuhan mereka serta senantiasa tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh ta’ala di dalam ayat yang lain,


تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu Biasanya orang tidur untuk mengerjakan sholat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Robbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 16)

Ketiga: Orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah azab Jahanam dari kami.”

Mereka adalah orang-orang yang berdoa kepada Alloh supaya dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka. Mereka juga senantiasa memohon ampun atas dosa yang pernah mereka lakukan, karena dosa-dosa itu jika tidak ditaubati maka akan menjebloskan dirinya ke dalam kungkungan azab. Padahal azab neraka sangatlah menakutkan, terus menerus menyertai dan menyiksa sebagaimana lilitan hutang menyiksa hati orang yang berhutang dan tidak sanggup melunasinya. “Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Ini menunjukkan ketundukan dan perendahan hati mereka di hadapan Alloh ta’ala, serta menunjukkan betapa merasa butuhnya mereka kepada pertolongan Alloh. Karena mereka sadar kalau mereka itu tidak akan sanggup menahan pedihnya azab. Hal ini juga mengingatkan mereka akan karunia Alloh atas mereka, yaitu ketika kesulitan yang sangat berat dan mengguncangkan jiwa tersebut sirna maka hati mereka semakin bergembira dan berbunga-bunga setelah berhasil selamat dari kungkungan azab.

Keempat: Orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir.

Mereka adalah orang yang berinfak di jalan Alloh, baik infak yang hukumnya wajib atau sunnah. Infak yang wajib seperti zakat, membayar kafarah dan memberi nafkah anak dan istri. Mereka tidak melanggar batas dalam berinfak, tidak boros sehingga tidak melalaikan kewajiban infak yang lain. Tapi mereka tidak lantas menjadi bakhil atau kikir. Demikianlah infak mereka, berada di antara sikap boros dan kikir. Mereka membelanjakan harta dalam perkara-perkara yang memang layak serta dengan cara yang layak pula, tidak mengundang bahaya untuk diri pribadi maupun orang lain, ini menunjukkan sikap adil dan seimbang yang mereka miliki.

Kelima: Orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Alloh.

Mereka adalah orang-orang yang hanya menyembah kepada Alloh saja, mengikhlaskan agama dan ketaatan untuk-Nya. Mereka tinggalkan segala bentuk kesyirikan dan cenderung kepada tauhid. Menghadapkan segenap jiwa dan raga mereka hanya kepada Alloh serta memalingkan ketergantungan hati dari segala sesuatu selain kepada-Nya.

Keenam: Orang yang tidak membunuh jiwa yang diharamkan Alloh membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar.

Jiwa yang haram dibunuh adalah jiwa seorang muslim dan jiwa orang kafir yang hidup di negeri muslim yang memiliki perjanjian keamanan dengan negeri orang kafir/kafir mu’ahad. Adapun membunuh yang diperbolehkan menurut syariat adalah membunuh pembunuh (qishash) membunuh penzina yang sudah memiliki suami/istri, serta membunuh orang kafir yang halal diperangi seperti ketika mereka menyerbu negeri muslim.

Ketujuh: Orang-orang yang tidak berzina.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluan mereka kecuali kepada istri-istri atau budak-budak mereka. Kemudian Alloh menyebutkan, “Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu” yaitu syirik, membunuh tanpa hak atau berzina “niscaya dia mendapat pembalasan dosanya.” Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal di dalam azab itu, dalam keadaan terhina, inilah ancaman sangat keras yang tertuju kepada siapa saja yang melakukan tiga perbuatan dosa itu, mereka kekal dalam kungkungan azab neraka. Karena syirik adalah dosa terbesar yang tidak mungkin diampuni oleh Alloh jika pelakunya meninggal dan belum bertaubat. Sedangkan bagi pembunuh dan penzina maka mereka menempati neraka dalam waktu yang sangat lama walaupun tidak kekal di dalamnya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan bahwasanya seluruh kaum mukminin kelak akan dikeluarkan dari neraka, tidak ada seorang mukmin pun yang kekal di dalamnya, meskipun dia pernah melakukan kemaksiatan seperti apapun.

Di dalam ayat ini Alloh menegaskan bahwa ketiga macam perbuatan itu adalah dosa-dosa terbesar. Dalam kesyirikan terkandung perusakan agama. Di dalam pembunuhan terkandung perusakan raga. Sedangkan di dalam perzinaan terkandung perusakan kehormatan dan harga diri umat manusia.

Kedelapan: Orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih.

Kemudian Alloh menyebutkan perkecualian, artinya orang-orang yang tidak akan tertimpa azab yang sangat pedih tersebut. Yaitu orang-orang yang bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa yang lainnya, (1) Dia segera meninggalkan perbuatan itu dan (2) Menyesali dosa yang pernah dilakukannya itu, dan (3) Dia juga bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Selain itu (4) Dia juga beriman kepada Alloh dengan keimanan yang benar, yaitu keimanan yang menuntut dirinya untuk meninggalkan berbagai macam kemaksiatan dan menuntutnya untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan. Selain itu (5) Dia juga beramal saleh; melakukan amal yang diperintahkan syariat dan mengikhlaskan niatnya dalam beramal hanya untuk mengharap keridhoan dan pahala melihat Wajah-Nya.

Kejahatan Mereka Akan Diganti Dengan Kebajikan

Kemudian Alloh berfirman yang artinya, “Maka kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan.” Inilah anugerah Alloh kepada hamba-hambaNya. Perbuatan dan perkataan-perkataan mereka yang semula dilakukan untuk berbuat kejelekan dan kejahatan Alloh gantikan dengan berbagai macam kebaikan. Alloh mengganti kesyirikan mereka dengan keimanan, kemudian Alloh mengganti setiap kemaksiatan mereka dengan ketaatan, dan Alloh mengganti berbagai kejelekan yang pernah mereka lakukan itu semua, Alloh karuniakan taubat, inabah dan ketaatan sebagai penggantinya. Tentang makna ini, terdapat sebuah hadits yang mengisahkan seorang yang sedang dihisab oleh Alloh karena sebagian dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Maka disebutkanlah satu persatu dosa yang pernah dilakukannya. Kemudian Alloh menukar setiap kejelekannya dengan sebuah kebaikan. Maka hamba itu berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya hamba mempunyai dosa-dosa yang tidak terdapat dalam catatan-catatan di sini.” Wallohu a’lam.

Sesungguhnya Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang. Alloh mengampuni hamba-hamba yang bertaubat, sebesar apapun dosa yang dilakukannya. Alloh Maha penyayang, buktinya Alloh menyeru mereka untuk segera bertaubat setelah berbuat dosa, kemudian Alloh juga memberikan taufik kepada mereka untuk benar-benar bertaubat, kemudian Alloh menerima taubat hamba-Nya. Sungguh besar kasih sayang Alloh kepada hamba-hambaNya.

Kemudian Alloh berfirman yang artinya, “Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Alloh dengan taubat yang sebenar-benarnya.” Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya taubat seorang hamba akan membawanya meraih puncak kesempurnaan. Karena taubat itulah jalan kembali yang akan mengantarkannya kepada Alloh, inilah hakikat kebahagiaan hamba dan keberuntungannya. Maka hendaklah dia mengikhlaskan taubatnya serta membersihkan niatnya dari berbagai tujuan yang rusak. Maksud yang tersimpan di ayat ini adalah dorongan supaya hamba menyempurnakan taubatnya.

Kesembilan: Orang-orang yang tidak mendatangi az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan al-Laghwu (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah), mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya.

Orang-orang yang tidak mendatangi Az Zuur. Az Zuur yaitu: perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Maka mereka menjauhi semua pertemuan yang di dalamnya terdapat perkataan atau perbuatan yang diharamkan, seperti perbincangan dalam memperolok ayat-ayat Alloh, perdebatan yang batil, menggunjing, mengadu domba, mencela, menuduh zina tanpa bukti, mengejek syariat Alloh, nyanyian yang haram, meminum khamar, menggunakan sutera, gambar-gambar bernyawa, dan lain sebagainya. Apabila mereka tidak menghadiri Az Zuur, maka apalagi mengatakan atau melakukannya mereka lebih tidak mau lagi. Dan persaksian palsu termasuk perbuatan yang pertama kali dikategorikan dalam cakupan Az Zuur.

“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah/al laghwu.” Al Laghwu adalah perkataan yang tidak mengandung kebaikan, baik manfaat diniyah maupun manfaat duniawiah.

Seperti perkataan orang-orang pandir dan semacamnya. “Mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya.” Mereka membersihkan dan memuliakan diri mereka dengan tidak ikut campur dalam pembicaraan itu. Mereka meyakini bahwa berbicara tentang perkara yang tidak mengandung kebaikan semacam itu meskipun tidak mendatangkan dosa, tetapi itu termasuk sikap bodoh menurut pandangan nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan. Sehingga mereka lebih memilih untuk menjaga diri dari hal itu. Di dalam firman Alloh, “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah”, terdapat isyarat bahwa mereka itu sebenarnya tidak memiliki niat untuk menghadiri dan mendengarkan perkataan itu, akan tetapi peristiwa itu terjadi secara kebetulan lalu mereka pun menjaga kemuliaan diri mereka dengan tidak ikut bergabung di dalamnya.

Kesepuluh: Orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Mereka adalah orang-orang yang tidak berpaling dari peringatan itu, tidak menutup telinga dari mendengarkannya, tidak menutup mata dan hatinya dari memahami peringatan itu sebagaimana perbuatan semacam ini dilakukan oleh orang yang tidak mengimani peringatan itu dan tidak mau membenarkannya. Apabila mereka mendengar peringatan itu mereka bersikap sebagaimana yang difirmankan Alloh,


إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ


“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud [maksudnya mereka sujud kepada Alloh serta khusyuk] seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (QS. As Sajdah: 15)

Mereka menerima peringatan-peringatan itu dengan sepenuhnya dengan disertai perasaan sangat membutuhkannya, tunduk serta pasrah terhadapnya. Anda temukan mereka itu memiliki telinga yang sangat terbuka, hati-hati yang sangat sadar yang dengan begitu maka semakin bertambahlah iman mereka serta semakin sempurna pula keyakinan mereka. Karena peringatan itu tumbuhlah semangat mereka, mereka sangat senang dan bergembira mendengarnya.

Kesebelas: Orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Apabila kita mencermati keadaan dan sifat mereka ini maka kita bisa mengetahui ketinggian cita-cita dan kedudukan mereka, sehingga mereka tidaklah merasa tenteram sampai anak-anak mereka mau taat dan patuh kepada Rabb mereka serta berilmu dan mengamalkan ilmunya. Meskipun doa ini ditujukannya untuk kebaikan istri dan anak keturunannya tetapi sesungguhnya itu adalah doa untuk dirinya sendiri. Karena manfaat doa itu akhirnya juga akan kembali kepadanya. Oleh karenanya di dalam doa itu mereka menyebut hal itu sebagai anugerah bagi mereka. Bahkan manfaat do’a mereka juga kembali kepada keseluruhan kaum muslimin. Karena kebaikan isteri dan anak-anak akan menimbulkan kebaikan orang-orang yang berhubungan dan menimba faedah dari mereka.

Mereka berdoa, “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Artinya mereka memohon supaya bisa meraih derajat yang tinggi ini, yaitu derajatnya kaum shiddiqiin dan derajat kesempurnaan yang dimiliki oleh hamba-hamba yang saleh, itulah derajat kepemimpinan dalam agama. Mereka memohon supaya dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan, sehingga perbuatan mereka layak ditiru dan perkataan mereka menenangkan. Sehingga para pelaku kebaikan berjalan mengikuti mereka, mereka mendapat hidayah dan juga menyebarkannya.

Doa untuk mendapatkan sesuatu berarti juga mencakup permintaan segala sesuatu yang menjadi syarat terpenuhinya. Sedangkan derajat kepemimpinan di dalam agama ini tidak akan bisa tercapai kecuali dengan bekal kesabaran dan keyakinan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh ta’ala,


وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ


“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As Sajdah: 24)

Konsekuensi do’a mereka itu adalah:

  1. Beramal saleh.
  2. Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Alloh.
  3. Sabar dari melakukan kemaksiatan kepada Alloh.
  4. Sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan.
  5. Ilmu yang sempurna, yaitu ilmu yang membuahkan keyakinan.
  6. Mengandung permintaan tercapainya kebaikan yang banyak dan pemberian yang melimpah.
  7. Juga mengandung permintaan agar mereka bisa menempati derajat makhluk setinggi. mungkin di bawah tingkatan para Rasul.

Balasan Bagi Ibadur-Rahman

Oleh karena cita-cita dan tuntutan mereka yang sangat tinggi ini maka balasan yang akan diberikan pun sesuai dengan jenis dan kualitas amalan yang dikerjakan. Maka Alloh membalas mereka dengan kedudukan yang tinggi, dengan firman-Nya, “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam surga karena kesabaran mereka.” Artinya mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi, tempat tinggal yang bagus yang mengumpulkan berbagai perkara yang sedap dipandang mata. Kenikmatan itu mereka peroleh dengan sebab kesabaran. Mereka berhasil mencapai apa yang mereka idam-idamkan. Sebagaimana firman Alloh ta’ala,


جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ


“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’ (Keselamatan atas kalian dengan sebab kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)

Oleh karenanya di dalam ayat ini Alloh berfirman, “Mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat” dari Robb mereka, juga dari para malaikat-Nya yang mulia, bahkan mereka juga saling mengucapkan selamat satu dengan yang lainnya, mereka terbebas dari segala bentuk cela dan kesusahan.

Ciri-Ciri Ibadur-Rahman

Berdasarkan ayat-ayat di atas maka dapat disimpulkan bahwa Alloh menyifati Ibadur-Rahman sebagai orang-orang yang:

  1. Memiliki ketenangan dan kewibawaan.
  2. Tawadhu’ kepada-Nya dan kepada hamba-hambaNya.
  3. Memiliki adab yang bagus.
  4. Santun dan lemah lembut.
  5. Berakhlak luhur, memaafkan orang-orang jahil dan berpaling dari kebodohan mereka.
  6. Membalas perbuatan buruk dengan ihsan dan kebaikan.
  7. Menegakkan sholat malam.
  8. Ikhlas dalam sholatnya itu (dan juga dalam ibadah lainnya).
  9. Merasa takut masuk neraka, merendahkan dan menundukkan diri kepada Robbnya supaya mereka diselamatkan dari neraka.
  10. Mengeluarkan nafkah yang wajib maupun yang mustahab, mereka bersikap tengah-tengah di dalam berinfak, tidak meremehkan dan juga tidak melampaui batas, begitu pula dalam permasalahan yang lainnya mereka juga bersikap pertengahan/adil.
  11. Mereka selamat dari dosa-dosa besar dan senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, menjaga diri dari menumpahkan harta dan merusak kehormatan/harga diri manusia.
  12. Mereka bertaubat jika terjatuh dalam dosa-dosa besar itu.
  13. Tidak mendatangi pertemuan yang berisi kemungkaran dan kefasikan baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, dan mereka sendiri juga tidak melakukan keburukan itu.
  14. Mereka membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak ada faedahnya serta berbagai perbuatan rendah yang tidak mengandung kebaikan sama sekali, hal itu membuahkan terpeliharanya kehormatan diri, kemanusiaan dan kesempurnaan mereka, serta mengangkat diri mereka dari terjerumus dalam segala bentuk ucapan dan perbuatan rendah.
  15. Mereka menerima ayat-ayat Alloh dengan sepenuhnya, mereka berusaha memahami makna-maknanya, mengamalkan isinya, bersungguh-sungguh dalam upaya menerapkan hukum-hukumnya.
  16. Mereka berdoa kepada Alloh dengan doa sesempurna mungkin, dalam bentuk doa yang manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri dan juga bagi orang-orang yang bersangkutan dengan mereka, dan supaya kaum muslimin bisa memetik faedah dengan terkabulnya doa tersebut, doa itu berisi agar istri-istri dan anak-anak keturunan mereka menjadi baik.

Konsekuensi dari doa yang dipanjatkan ini maka dia juga harus mengajarkan ilmu kepada mereka, menasihati dan menghendaki kebaikan untuk mereka, karena barang siapa yang bersemangat untuk mencapai sesuatu dan berdoa kepada Alloh untuk bisa mendapatkannya maka dia juga harus menempuh sebab-sebabnya. Mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Alloh untuk bisa meraih derajat tertinggi yang mungkin mereka dapatkan yaitu derajat imamah (kepemimpinan) dan shiddiqiyyah (keteguhan dan kebenaran).

Demi Alloh, betapa luhur sifat-sifat mereka, sungguh tinggi cita-cita mereka, alangkah mulia tuntutan-tuntutan mereka, alangkah sucinya jiwa-jiwa orang semacam itu, betapa bersihnya hati orang-orang itu, betapa bersih orang-orang suci pilihan itu dan betapa bertakwanya tuan-tuan itu!!!

Demi Alloh, betapa besar keutamaan dan nikmat yang dikaruniakan Alloh kepada mereka, begitu pula rahmat yang semakin menambah kemuliaan mereka, betapa halus kelemahlembutan-Nya yang telah mengangkat mereka menuju martabat yang mulia ini.

Demi Alloh, betapa agung karunia Alloh kepada hamba-hambaNya, Alloh menjelaskan sifat-sifat mereka, menyebutkan ciri-ciri mereka, Alloh menerangkan cita-cita mereka dan Alloh juga menjelaskan pahala yang akan mereka terima supaya mereka berhasrat untuk bisa memiliki sifat-sifat tersebut, dan supaya mereka mengerahkan kesungguhannya untuk meraih sifat-sifat tersebut dan dalam rangka mendorong mereka agar mengerahkan segala kesungguhan mereka dalam hal itu. Alloh memerintahkan supaya mereka memohon karunia kepada Zat yang bisa menganugerahkan sifat-sifat itu, Zat yang memuliakan mereka, Zat yang senantiasa memiliki keutamaan di setiap zaman dan di setiap tempat, dalam waktu dan situasi apapun, maka mereka pun memohon hidayah taufik (untuk bisa beramal) kepada Alloh sebagaimana Alloh telah memberi mereka hidayah Irsyad (untuk berilmu), mereka memohon Alloh memelihara dan membimbing mereka dengan tarbiyah khusus-Nya sebagaimana Alloh telah memelihara dan membimbing mereka dengan tarbiyah umum-Nya,

Allohumma, ya Alloh hanya bagi-Mu seluruh pujian, kepada-Mu tempat mengadu, Engkaulah Zat yang layak dimintai pertolongan dan keselamatan, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu, Kami tidak sanggup menguasai sedikit pun manfaat atau bahaya bagi diri kami sendiri, kami tidak menguasai sekecil apapun kebaikan jika Engkau tidak berikan kemudahan kepada kami untuknya, sesungguhnya kami-kami ini lemah dan tidak mampu dari segala sisi.

Kami bersaksi seandainya Engkau membiarkan kami bersandar kepada diri-diri kami sendiri sekejap mata saja maka itu berarti Engkau telah membiarkan kami bersandar kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesalahan. Maka dengan demikian wahai Robb kami, sesungguhnya kami ini tidak percaya sepenuhnya kecuali kepada rahmat-Mu yang karena rahmat itulah Engkau menciptakan dan memberikan rezeki kami, dengan rahmat itu pula Engkau karuniakan nikmat kepada kami; nikmat lahir maupun batin, dan karena rahmat-Mu lah Engkau memalingkan berbagai bencana yang seharusnya menimpa kami, maka limpahkanlah kepada kami rahmat yang membuat kami cukup dan tidak membutuhkan lagi selain rahmat-Mu, niscaya tidak ada seorang pun yang rugi apabila meminta dan berharap kepada-Mu.

Tidak Ada Artinya Hidup Tanpa Ibadah

Kemudian Alloh ta’ala memberitakan bahwa Dia tidak peduli dan tidak mengindahkan kepada selain orang-orang yang memperoleh rahmat tersebut. Seandainya bukan karena ibadah (doa ibadah) dan permintaan (doa mas’alah) yang kalian panjatkan kepada-Nya niscaya Dia tidak akan memperdulikan dan mencintai kalian, Alloh nyatakan, “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): Tuhanku tidak mengindahkan Kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).” Inilah balasan bagi orang-orang yang tidak mau tunduk beribadah kepada-Nya.

Artinya azab Alloh itu akan terus menerus menyiksamu ibarat siksaan berkepanjangan yang dirasakan oleh orang yang dililit hutang dan tidak sanggup melunasinya, dan kelak Alloh akan memberikan keputusan antara kamu dengan hamba-hambaNya yang beriman.

(Disarikan dari Taisir al-Karim ar-Rahman dengan sedikit tambahan keterangan, Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh, cetakan Mu’assasah ar-Risalah, hal. 586-588)

Jangan Sia-Siakan Kesempatan !!!

Syaikh as-Sa’di rohimahulloh berkata: Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah yaitu barang siapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya, padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya, maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. Barang siapa meninggalkan ibadah kepada Ar Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barang siapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Alloh maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Alloh, dan takut karenanya.

Barang siapa tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Alloh niscaya dia akan menginfakkannya dalam menaati syaitan. Barang siapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Robbnya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba. Barang siapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan (Tafsir surat Al Baqoroh ayat 101-103, Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).

Mari Menghadap Alloh Dengan Qalbu yang Saliim

Saudara-saudaraku sekalian, marilah kita bersihkan hati-hati kita dari dosa-dosa dan kesyirikan. Karena di hari kiamat nanti tidak akan bermanfaat lagi banyaknya harta dan keturunan. Berapa pun harta yang anda punya, emas sebesar gunung atau bahkan sepenuh bumi sekalipun, itu semua tidak ada artinya jika anda berjumpa dengan-Nya tanpa hati yang bersih. Begitu pula tidak ada artinya banyaknya anak cucu, walaupun mereka itu memiliki kedudukan dan jabatan-jabatan tertinggi di atas muka bumi, bila anda tidak menghadap-Nya dengan hati yang suci. Alloh Ta’ala berfirman,


يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ


“Pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, kecuali orang yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. Asa Syu’araa’: 88-89)

Imam Ibnu Katsir berkata: (hati yang selamat) artinya selamat dari dosa dan kesyirikan. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan: hati yang selamat adalah hatinya orang beriman, karena hati orang kafir dan munafiq itu sakit… Abu ‘Utsman an-Naisaburi mengatakan: (hati yang selamat) adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram dengan as-Sunnah (Tafsir Ibnu Katsir,

III/48).

Allohumma innii zhalamtu nafsi zhulman katsiiran wa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta, faghfirlii maghfiratan min ‘indik, warhamni, innaka antal Ghafuurur Rahim. (HR. Bukhari-Muslim, Ad Du’a minal Kitab wa Sunnah hal. 46).

***

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id



Hakikat Sabar (2)


Hukum Merasa Ridha Terhadap Musibah

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala menjelaskan, “Hukum merasa ridha dengan adanya musibah adalah mustahab (sunnah), bukan wajib. Oleh karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan antara ridha dengan sabar. Sedangkan kesimpulan yang pas untuk itu adalah sebagai berikut. Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib, dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Hal itu dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah.

Adapun ridha memiliki dua sudut pandang yang berlainan:

Sudut pandang pertama: terarah kepada perbuatan Allah jalla wa ‘ala. Seorang hamba merasa ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala sesuatu. Dia merasa ridha dan puas dengan perbuatan Allah. Dia merasa puas dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah. Dia merasa ridha terhadap pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah jalla wa ‘ala. Rasa ridha terhadap perbuatan Allah ini termasuk salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan menafikan kesempurnaan tauhid (yang harus ada).

Sudut pandang kedua: terarah kepada kejadian yang diputuskan, yaitu terhadap musibah itu sendiri. Maka hukum merasa ridha terhadapnya adalah mustahab. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sakit yang dideritanya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan anaknya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan hartanya. Namun hal ini hukumnya mustahab (disunnahkan).

Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridha yang hukumnya wajib) Alqamah mengatakan, “Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka diapun merasa ridha” yakni merasa puas terhadap ketetapan Allah “dan ia bersikap pasrah”. Karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi (perbuatan) Allah jalla jalaaluhu. Inilah salah satu ciri keimanan.” (At Tamhiid, hal. 392-393)

Sabar dan Syukur

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa manusia dalam menghadapi takdir Allah yang berupa kesenangan dan kesulitan terbagi menjadi dua, yaitu kaum beriman dan kaum yang tidak beriman.

Adapun orang yang beriman bagaimanapun kondisinya selalu baik baginya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia bersabar dan tabah menunggu datangnya jalan keluar dari Allah serta mengharapkan pahala dengan kesabarannya itu. Dengan demikian dia memperoleh pahala orang-orang yang sabar. Maka ini baik baginya.

Sedangkan apabila seorang mukmin menerima nikmat diniyah maupun duniawiyah maka dia bersyukur yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Karena syukur bukan saja mencakup ucapan syukur di mulut saja, akan tetapi harus dilengkapi dengan melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah. Sehingga orang yang beriman memiliki dua nikmat ketika mengalami kesenangan yaitu nikmat dunia dengan merasa senang dan nikmat diniyah dengan bersyukur. Sehingga inipun baik bagi dirinya.

Adapun orang kafir, mereka berada dalam keadaan yang buruk sekali, wal ‘iyaadzu billaah. Apabila tertimpa kesulitan mereka tidak mau bersabar, bahkan tidak mau terima, memprotes takdir, mendoakan kebinasaan, mencela masa dan caci maki lainnya.

Sedangkan apabila mendapatkan kesenangan dia tidak bersyukur kepada Allah. Maka kesenangan yang dialami oleh orang-orang kafir di dunia ini kelak di akhirat akan berubah menjadi siksaan. Karena orang kafir itu tidaklah menyantap makanan atau menikmati minuman kecuali dia pasti mendapatkan dosa karenanya. Meskipun hal itu bagi orang mukmin tidak dinilai dosa, akan tetapi lain halnya bagi orang kafir.

Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah dan rezeki yang baik-baik yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Katakanlah: itu semua adalah untuk orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia yang akan diperuntukkan untuk mereka saja pada hari kiamat.” (QS.Al A’raaf [7]: 32).

Sehingga semua rezeki tersebut diperuntukkan bagi kaum beriman saja pada hari kiamat nanti. Adapun orang-orang yang tidak beriman maka nikmat itu bukan menjadi hak mereka. Mereka memakannya padahal itu haram bagi mereka dan pada hari kiamat nanti mereka akan disiksa karenanya. Sehingga bagi orang kafir kesenangan maupun kesulitan adalah sama-sama buruknya, wal ‘iyaadzu billaah. (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin, I/107-108)

Hikmah di Balik Musibah

Dari Anas, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat.” (Hadits riwayat At Tirmidzi dengan nomor 2396 di dalam Az Zuhud. Bab tentang kesabaran menghadapi musibah. Beliau mengatakan: hadits ini hasan gharib. Ia juga diriwayatkan oleh Al Haakim dalam Al Mustadrak (1/349, 4/376 dan 377). Ia tercantum dalam Ash Shahihah karya Al Albani dengan nomor 1220)

Syaikhul Islam mengatakan, “Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat. Karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. Ia juga menuntut kesabaran sehingga orang yang tertimpanya justru diberi pahala. Musibah itulah yang melahirkan sikap kembali taat dan merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala serta memalingkan ketergantungan hatinya dari sesama makhluk, dan berbagai maslahat agung lainnya yang muncul karenanya. Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk, kecuali apabila musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa. Apabila itu yang terjadi maka ia menjadi keburukan baginya, bila ditilik dari sudut pandang musibah yang menimpa agamanya.”

“Sesungguhnya ada di antara orang-orang yang apabila mendapat ujian dengan kemiskinan, sakit atau terluka justru menyebabkan munculnya sikap munafik dan protes dalam dirinya, atau bahkan penyakit hati, kekufuran yang jelas, meninggalkan sebagian kewajiban yang dibebankan padanya dan malah berkubang dengan berbagai hal yang diharamkan sehingga berakibat semakin membahayakan agamanya. Maka bagi orang semacam ini kesehatan lebih baik baginya. Hal ini bila ditilik dari sisi dampak yang timbul setelah dia mengalami musibah, bukan dari sisi musibahnya itu sendiri. Sebagaimana halnya orang yang dengan musibahnya bisa melahirkan sikap sabar dan tunduk melaksanakan ketaatan, maka musibah yang menimpa orang semacam ini sebenarnya adalah nikmat diniyah. Musibah itu sendiri terjadi dengan perbuatan Rabb ‘azza wa jalla sekaligus sebagai rahmat untuk manusia, dan Allah ta’ala maha terpuji karena perbuatan-Nya tersebut. Barang siapa yang diuji dengan suatu musibah lantas diberikan karunia kesabaran oleh Allah maka sabar itulah nikmat bagi agamanya. Setelah dosanya terhapus karenanya maka muncullah sesudahnya rahmat (kasih sayang dari Allah).

Dan apabila dia memuji Rabbnya atas musibah yang menimpanya niscaya dia juga akan memperoleh pujian-Nya. “Mereka itulah orang-orang yang diberikan pujian (shalawat) dari Rabb mereka dan memperoleh curahan rahmat.” (QS. Al Baqarah [2]: 156) Ampunan dari Allah atas dosa-dosanya juga akan didapatkan, begitu pula derajatnya pun akan terangkat. Barang siapa yang merealisasikan sabar yang hukumnya wajib ini niscaya dia akan memperoleh balasan-balasan tersebut” Selesai perkataan Syaikhul Islam, dengan ringkas. (Lihat Fathul Majiid, hal. 353-354)

Doa Apabila Tertimpa Musibah

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allahumma’jurnii fii mushiibatii wa ahklif lii khairan minhaa

Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah. Dan kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berikanlah ganjaran pahala atas musibah hamba. Dan gantikanlah ia dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim, 2/632. lihat Hishnul Muslim, hal. 96-97)

Pertanyaan: Apabila ada seseorang yang terkena suatu penyakit atau tertimpa suatu bencana yang berakibat buruk bagi diri atau hartanya, lalu bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa bencana itu merupakan ujian ataukah kemurkaan dari sisi Allah ?

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab, “Allah ‘azza wa jalla menguji hamba-hamba-Nya dengan bentuk kesenangan dan kesulitan, dengan kesempitan dan kelapangan. Terkadang dengan hal itu Allah menguji mereka supaya bisa menaikkan derajat mereka serta meninggikan sebutan mereka dan juga demi melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. Yang demikian itu sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salaam, dan juga para hamba Allah yang shalih. Sebagaimana sudah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian diikuti oleh orang-orang lain yang berada di bawah tingkatan mereka.”

Dan terkadang Allah juga menimpakan hal itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa-dosa (yang mereka lakukan). Sehingga dengan demikian maka bencana itu merupakan hukuman yang di segerakan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah Yang Mahasuci yang artinya, “Dan musibah apapun yang menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang.” (QS. Asy Syura [42]: 30).

Adapun kondisi sebagian besar umat manusia yang ada ialah fenomena taqshir/meremehkan dan tidak menunaikan kewajiban yang telah dibebankan. Oleh karena itu musibah yang menimpa dirinya maka itu sesungguhnya timbul dikarenakan dosa-dosa yang diperbuatnya serta kekurangannya sendiri dalam menjalankan perintah Allah.

Sedangkan apabila yang mengalami musibah adalah termasuk golongan hamba Allah yang shalih, entah berupa penyakit tertentu ataupun musibah yang lainnya, maka sesungguhnya hal ini termasuk kategori ujian yang diberikan kepada kalangan para Nabi dan Rasul dalam rangka mengangkat derajat serta membesarkan balasan pahalanya. Dan juga dia bisa menjadi contoh untuk orang lain dalam hal kesabaran dan keyakinannya untuk berharap pahala. Sehingga hasil yang ingin diraih dengan sebab terjadinya musibah ialah terangkatnya derajat, peningkatan pahala, sebagaimana halnya musibah yang ditetapkan oleh Allah menimpa para Nabi dan sebagian orang yang baik/shalih.

Dan bisa juga hal itu terjadi demi menghapuskan dosa kesalahan-kesalahan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah ta’ala yang artinya, “Barang siapa yang melakukan kejelekan pasti akan dibalas.” (QS. An Nisaa’ [4] : 123).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada sebuah kesusahan, kekalutan, keletihan, penyakit, kesedihan maupun gangguan yang menimpa seorang mukmin melainkan Allah pasti menghapuskan sebagian dosa kesalahan-kesalahannnya, bahkan sampai duri yang menusuk bagian tubuhnya.” Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang diinginkan baik oleh Allah maka pasti Dia timpakan musibah kepadanya.”

Namun terkadang bisa juga hal itu merupakan hukuman yang di segerakan disebabkan perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan dan kelambatan diri dalam bertaubat. Hal itu sebagaimana diceritakan di dalam sebuah hadits dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka Allah segerakan hukuman baginya di alam dunia. Sedangkan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Allah menahan hukuman atas dosa itu hingga terbayarkan kelak pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi, dinilainya hasan). (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah juz 4, diterjemahkan dari website beliau)

Marah Saat Tertimpa Musibah ?

Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang marah tatkala tertimpa musibah ?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab, “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan :

Tingkatan Pertama: Marah

Tingkatan ini meliputi beberapa macam keadaan:

Kondisi pertama; ia menyimpan perasaan marah di dalam hati kepada Allah. Sehingga dia pun menjadi marah terhadap apa yang sudah diputuskan Allah. Hal ini adalah haram. Bahkan terkadang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam kekafiran. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Apabila dia tertimpa kebaikan dia pun merasa tenang. Dan apabila dia tertimpa ujian maka dia pun berbalik ke belakang, hingga rugilah dia dunia dan akhirat.” (QS. Al Hajj [22]: 11).

Kondisi kedua; kemarahannya diekspresikan dengan ucapan. Seperti dengan mendoakan kecelakaan dan kebinasaan atau ucapan semacamnya, ini juga haram.

Kondisi ketiga; kemarahannya sampai meluap sehingga terekspresikan dengan tindakan anggota badan. Seperti dengan menampar-nampar pipi, merobek-robek kain pakaian, mencabuti rambut dan perbuatan semacamnya. Perbuatan ini semua haram hukumnya dan meniadakan sifat sabar yang wajib ada.

Tingkatan Kedua: Bersabar

Hal ini sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair dalam syairnya,

Sabar itu memang seperti namanya

Pahit kalau baru dirasa

Tapi buahnya yang ditunggu-tunggu

Jauh lebih manis daripada madu

Dia melihat bahwa musibah ini adalah sesuatu yang sangat berat akan tetapi dia tetap bisa tabah dalam menanggungnya. Dia merasa tidak senang atas kejadiannya. Namun imannya masih bisa menjaganya untuk tidak marah. Sehingga terjadi atau tidaknya musibah itu masih terasa berbeda baginya. Dan hal ini adalah tingkatan yang wajib. Sebab Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman yang artinya, “Bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Alnfaal [8]: 46).

Tingkatan Ketiga: Merasa Ridha

Yaitu seseorang bisa merasa ridha dengan musibah yang menimpanya. Sehingga ada dan tidaknya musibah adalah sama saja baginya. Dia tidak merasakannya sebagai sebuah beban yang sangat berat. Ini adalah tingkatan yang sangat dianjurkan/mustahab, dan bukan hal yang wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya cukup jelas. Yaitu karena dalam tingkatan ini ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya. Adapun dalam tingkatan sebelumnya terjadinya musibah itu masih dirasakan sebagai sesuatu yang sukar baginya, namun dia masih tetap bersabar.

Tingkatan Keempat: Bersyukur

Inilah tingkatan yang tertinggi. Yaitu dengan justru bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Dia sadar bahwa pada hakikatnya musibah adalah faktor penyebab terhapusnya dosa-dosanya, bahkan terkadang bisa menjadi sumber penambahan amal kebaikannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.” (HR. Bukhari (5640) dan Muslim (2572)). (Diterjemahkan dengan penyesuaian redaksional dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 126-127)

Balasan Bagi Orang yang Sabar

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya”. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan shalawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah.” (QS. Al Baqarah [2]: 155-157).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bersabar maka dia berhak menerima lawan darinya, berupa celaan dari Allah, siksaan, kesesatan serta kerugian. Betapa jauhnya perbedaan antara kedua golongan ini. Betapa kecilnya keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan tidak bersabar…” (Taisir Karimir Rahman, hal. 76)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas.” (QS. Az Zumar [39]: 10).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya,”Ayat ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan, yaitu hamba tidak merasa marah karenanya. Sabar dari kemaksiatan kepada-Nya, yaitu dengan cara tidak berkubang di dalamnya. Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya, sehingga dia pun merasa lapang dalam melakukannya.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan, artinya tanpa batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran tertentu. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah, dan menunjukkan pula bahwa Allah lah penolong segala urusan.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 721)

Surga Bagi Orang yang Sabar

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar Ra’d: 23-24).

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

Selesai disusun ulang, Kamis 8/1/1428

Abu Mushlih Al Jukjakarti

Semoga Allah mengampuninya

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id